Tajuk Rencana Kompas
Kompas, 27 Agustus 1982
Menarik sekali pendapat Liem Swie King mengenai perkembangan perbulutangkisan kita semenjak kejayaan Rudy Hartono. Ia membagi periode semenjak itu sampai sekarang menjadi 3 era : Era Rudy Hartono, Era LIem Swie King, dan Era baru, di mana Icuk Sugiarto dan Lius Pongoh mulai menonjol.
Pembagian menjadi 3 era itu didasarkan pada karakteristik masing-masing. Dalam era Rudy, persaingan di dunia perbulutangkisan belum terlalu ketat, karena belum hadirnya China dan belum adanya rangsangan uang. Dalam era Liem Swie King sendiri, telah terasa adanya persaingan uang di setiap kejuaraan. Dlamam era baru, persaingan menjadi lebih berat dan keras, karena kehadiran China dan rangsangan uang.
Dalam bidan atau kegiatan hidup apa pun, selalu diperlukan rangsangan dan dorongan untuk maju. Presiden Soeharto juga mengemukakan dalam pidato kenegaraanya 16 Agustus 1982 bahwa pembangunan memerlukan rangsangan-rangsangan terus-menerus, memerlukan semangat dan kesegaran baru.
Bagi dunia perbulutangkisan kita, tampilnya para pemain China yang tangguh di arena pertandingan-pertandingan bulu tangkis internasional, harus kita anggap sepagai faktor positif. Karena merupakan tantangan dan rangsangan untuk lebih menyempurnakan diri, untuk lebih meningkatkan kemampuan.
menurut penilaian Rudy Hartono, kita harus mengakui bahwa di sektor tunggal putra kekuatan kita sekarang masih di bawah China. Hanya barangkali bisa dikatakan, Liem Swie King yang seimbang dengan Han Jian. Sedangkan Icuk dan Lius Pongoh, kemampuanya masih berada di bawah Chen Changjie dan Luan Jin. Mengenai ganda putra, kekuatan kita hampir seimbang dengan China.
Menggembirakan bahwa hanya para pembina perbulutangkisan kita saja yang menganggap faktor China iu positif artinya, merupakan rangsangan untuk maju, tetapi juga para pemain sendiri. Sikap ini yang kita harapkan berkembang pula di cabang-cabang olahraga lainnya, setelah memperbandingkan kemampuan diri mereka sendiri dengan para olahragawan secabang di negara-negara lain. Dan alangkah juga menggembirakan, kalau kalau sikap serupa menjiwai generasi muda kita, khususnya yang sekarang masih duduk di bangku sekolah, setelah mereka melihat kenyataan hanya orang-orang yang berkualitas saja sekarang yang relatif masih mudah memperoleh lapangan kerja.
Tegasnya, tuntutan yang semakin tinggi bagi suatu profesi, bagi suatu bidang kerja, harus dianggap sebagai faktor positif yang mendorong mereka untuk lebih tekun belajar dan betul-betul mendalami materi pelajaran mereka. Dengan demikian, terkikislah sikap minimalis, belajar ala kadarnya asal naik kelas dan lulus.
Mengenai peranan uang sebagai salah satu pendorong untuk berprestasi lebih baik dalam berbagai bidang kegiatan, kiranya harus dianggap sebagai sesuatu yang wajar, sesuatu yang manusiawi. Semua orang ingin hidup berkecukupan, ingin dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan materiil, tetapi juga kebutuhan intelektual dan rohaniah. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu pun memerlukan biaya, uang.
Karena untuk memperoleh uang, umumnya manusia harus bekerja dengan mengerahkan kemampuannya, keahliannya, maka kita harus anggap wajar pula kalau orang yang memiliki keahlian di bidang olehraga, memanfaatkan keahlian itu pula untuk memperoleh penghasilan. Inilah yang kita jadikan dasar pembenaran kita menerima profesionalisme dalam olehraga.
Tetapi seperti halnya kita tidak boleh menyalahgunakan jabatan dan keahlian untuk menyedot uang, demikian pula kita menyalahi etika keolahragaan, merusak sportivitas dan aspek-aspek mulia lainnya di bidang olahraga, apabila kita menyalahgunakan kemampuan kita di bidang olahraga untuk sekedar mendapatkan uang. Dalam profesi sebagai olahragawanberlaku pula integritas profesional.