3.15.2010

LILIYANA NATSIR OBSESI TROFI ALL ENGLAND

Duduk lesehan dengan kaki selonjor di pinggir lapangan bulu tangkis di kompleks Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu pagi lalu, Liliyana Natsir tampak kelelahan. Keringat terus mengucur membasahi mukanya yang putih. Namun tatapan matanya kali ini terlihat sayu. "Sebenarnya badan masih kli-yengan, tapi harus mulai latihan lagi," kata pemain yang akrab dipanggil Butet itu.

Program latihan bersama Nova Widianto di bawah arahan pelatih Richard Mainaky, pelatih ganda campuran di Cipayung, mesti kembali dijalani. Pasalnya, ia harus bersiap menghadapi kejuaraan All England di Inggris, yang berlangsung pekan depan.Sekitar 10 hari lalu, Butet harus membagi konsentrasinya memperkuat ganda putri tim Piala Uber agar lolos kualifikasi di Nakhon Rat-chasima, Thailand, dan maju ke putaran final di Malaysia, Mei mendatang.Butet berharap, bersama Nova, bisa mewujudkan ambisinya menjadi juara All England edisi seabad ini. Harapan itu bukan tanpa alasan. Ganda campuran terbaik Indonesia ini dua kali menjadi semifinalis. Mereka menembus final pada 2008. Saat itu mimpi menjadi sang juara kandas setelah mereka dikalahkan pasangan Zheng Bo/Gao Ling dari Cina. Tahun lalu, langkah mereka hanya sampai di perempat final.

"Menjadi atlet bulu tangkis belum lengkap bila belum bisa menjadi juara All England dan juara dunia," kata Butet yang kini berusia 24 tahun. Baginya, ada kebanggaan tersendiri menjadi juara All England. "Bukan hadiahnya, tetapi kalau belum bisa juara All England belum mantap," ia melanjutkan.Atlet bulu tangkis adalah cita-cita Butet sejak kecil. Ia sudah akrab dengan raket dan kok sejak berusia 9 tahun. Awalnya Butet kecil hanya bermain bulu tangkis bersama kakaknya, Kalista Natsir, yang berumur 5 tahun di atasnya, atau dengan mamanya, Oily Maramis, di halaman rumah. Tetapi, melihat semangat Butet saat bermain bulu tangkis. Oily pun mendaftarkan anaknya masuk klub PB Pisok Manado.

Oily merasa pilihannya tepat mengirim Butet ke klub bulu tangkis. Hari pertama masuk, Butet bisa mengalahkan anak seusianya yang sudah belajar di klub hampir 2 tahun. "Pelatih waktu itu bilang kepada Mama, saya punya bakat," kata anak bungsu ini. Oily pun semakin yakin mendukung Butet.Sejak itulah konsentrasi Butet belajar di sekolah mulai terbelah walaupun tetap bisa, beriringan. Pulang sekolah, Butet hanya istirahat sebentar dan langsung pergi latihan ke klub. "Seminggu bisa empat kali, bahkan tidak jarang setiap hari latihan," katanya. Namun usaha kerasnya melahirkan hasil yang indah. Saat ikut Pusdiklat Porma Esa, Butet dapat meraih empat medali emas dari nomor tunggal dan ganda putri.Liburan kelulusan sekolah dasar menjadi momentum kebetulan yang membawanya kemudian menetap di Jakarta. Ia berpisah dari orang tua sejak berumur 12 tahun. Saat itu Butet dan keluarganya mengadakan liburan ke Semarang dan Jakarta. Ketika sampai di Jakarta, ia dan mamanya menyempatkan diri mendatangi pusat latihan PB Tangkas Alfamart untuk mengunjungi temannya, Natalia Poluakan, yang sudah lebih dulu masuk klub itu.

"Saya diberi kesempatan bertanding dengan anak Jakarta dan langsung menang," kata Butet. Sehingga, saat itu juga, ia ditawari masuk klub. Oily pun tak kuasa membendung keinginan anaknya belajar bulu tangkis di Jakarta. "Ya sudah, kalau mau bulu tangkis, kamu tinggal di Jakarta," kata Butet menirukan kata-kata mamanya waktu itu.Butet, yang belum pernah berpisah dari orang tua, meminta mamanya tinggal bersamanya di Jakarta. Namun Oily harus kembali ke Manado karena ada usaha keluarga yang harus dia kelola. Akhirnya Butet dimasukkan ke asrama Tangkas. Untuk pengawasan di Jakarta, orang tua Butet memberikan amanah kepada pamannya, Erik Natsir, yang tinggal di Duren Sawit. "Setiap akhir pekan, saya dijemput Om untuk tinggal di rumahnya," katanya.

Sejak di Tangkas, Butet cenderung suka bermain di nomor ganda. Banyak kejuaraan junior dan remaja yang dia juarai bersama Natalia. "Main single jarang juara," katanya. Lebih bisa menikmati saat bermain membuatnya mengambil keputusan berfokus bermain di ganda. Awalnya, keputusan itu sempat mendapat tentangan dari mamanya, . yang selalu beranggapan main di nomor tunggal lebih bagus. Maklum, .mamanya adalah penggemar Susi Susanti. Tapi sang mama kemudian bisa menerima.Pada 2002, duet Butet dan Natalia masuk atlet pratama Pelatnas Cipayung. "Popo (Paulus Firman)-lah pelatih Cipayung yang menyiksa fisik saya pertama kali," kata Butet. Hanya setahun di pratama, Butet naik level utama, tapi kali ini tidak bersamaan dengan Natalia.

Dua tahun Butet beberapa kali ganti pasangan ganda putri, tapi prestasi yang diraih tidak ada yang terlalu istimewa. Hal ini membuat dia sempat kecewa. Namun, pada pertandingan Pekan Olahraga Nasional di Palembang 2004, Butet-yang bermain di nomor ganda putri berpasangan dengan Rone Rontulalu mewakili Manado-berhasil mengimbangi permainan Nova/Vita Marisa, yang mewakili DKI Jakarta. "Kami di final kalah," katanya. Tetapi, di ganda putri, Butet/Natalia berhasil menggondol gelar juara.Kembali ke Jakarta, Richard menawari Butet bermain di ganda campuran setelah melihat permainannya di PON itu. "Saya langsung menerima tawaran Kak Richard. Padahal waktu itu belum tahu siapa yang akan menjadi pasangan saya," kata Butet.

Faktor kebetulan pun kembali berpihak kepada Butet. Walaupun masih baru di ganda campuran, Butet langsung dipasangkan dengan Nova, yang saat itu sudah menjadi pentolan ganda campuran tapi sedang tidak punya pasangan. "Saat itu pasangannya, Vita, sedang mengalami cedera," kata Butet.Ketika tampil pertama kali di Cina Terbuka awal 2004, Nova/Butet langsung masuk semifinal. Setelah itu maju lagi di Singapura Terbuka dan berhasil menjadi juara. Puncaknya, kata Butet, saat bertanding di Kejuaraan Dunia 2005 dan menjadi juara. "Cukup menghebohkan waktu itu," katanya, riwwdustvti